“BUKAN” KEBAJIKAN TEOLOGIS, TETAPI KE-BIJAK-AN BAPA THEOS”

Saya teringat dengan sebuah cerita bijak sewaktu masih duduk di bangku SD. Cerita ini berkisah tentang Bapa Theos, Si Tua Bijak, dan tiga orang laki-laki (meski dalam Ordo kami ada saudara kami yang namanya ‘Theo’ teman angkatannya pun tiga orang. Kadang dia dipanggil ‘Theo’ tanpa ‘s’ kadang pula dipanggil ‘Bapa Theo’ karena sewaktu bergabung ke dalam Ordo, usianya sudah cukup “tidak muda” lagi; maaf, tidak bermaksud “tua”).

Alkisah, ada tiga orang laki-laki yang masih muda, berasal dari keluarga miskin. Suatu hari masing-masing dari mereka diberi tiga butir jagung oleh seorang PRIA TUA BIJAK, namanya BAPA THEOS (dari Yunani ο θεος – HO THEOS [tunggal] berarti ‘The Lord’/Tuhan). Si Bijak Tua ini memerintahkan mereka untuk pergi ke penjuru dunia menemukan keberuntungan bagi mereka dengan memanfaatkan butiran jagung tersebut. Mereka pun melaksanakan seperti yang diperintahkan Si Bijak Tua.

Orang yang pertama menaruh tiga butir jagung itu dalam mangkok yang berisi air panas, merebusnya sampai matang dan memakannya. Orang yang kedua sebaliknya berpikir, dia bisa melakukan lebih baik lagi daripada temannya yang pertama. Dia kemudian menanam tiga biji jagung itu. Dalam beberapa bulan, dia mendapatkan tiga bonggol (tongkol) jagung. Alhasil, dia memanen, mengupas, memasak dan memakannya.

Orang yang ketiga berkata kepada dirinya sendiri, “saya bisa melakukan yang lebih baik lagi daripada kedua temanku”. Dia kemudian menanam biji jagung dan memperoleh tiga bonggol jagung. Kemudian dia memisahkannya menjadi tiga bagian. Yang satu bonggol dikupas dan ditanam semua bijinya. Yang satunya lagi diberikan kepada seorang gadis. Yang satunya lagi, dimasaknya untuk dimakan.

Satu bonggol jagung yang ditanamnya menghasilkan 200 bonggol jagung. Kemudian semua biji jagung yang diperolehnya itu ditanamnya kembali, hanya disisakan sedikit untuk dimakan secukupnya. Akhirnya dia mempunyai sepuluh hektare ladang jagung. Dengan keberhasilannya itu, dia tidak saja memikat hati gadis yang pernah diberinya jagung tetapi juga bisa membeli ladang jagung yang dimiliki oleh ayah gadis itu. Dia bahkan menjadi petani sukses yang kaya dan tidak pernah mengalami kelaparan. Dia hidup bahagia bersama si gadis, yang sudah menjadi istrinya, sepanjang usianya.

Saya sempat berpikir apa nasihat bijak di balik cerita ini. Saya pun mulai ber-improvisasi merekayasa makna cerita ini bahwa TIDAK ADA KEMISKINAN YANG BISA MENGAMBIL-ALIH KERAJINAN atau boleh ditegaskan bahwa KEMALASAN adalah TIDAK MELAKUKAN APA-APA, TIDAK MENGHARAPKAN APA-APA, TIDAK MENJADI APA-APA. Tetapi … ada satu sudut pandang penting sebagaimana yang akan saya dan Anda refleksikan. Juga bukan sebuah refleksi teologis tetapi bisa menjadi refleksi bijak, pedoman dan inspirasi hidup bagi kita.

Orang pertama yang hanya merebus tiga butir jagung kemudian memakannya adalah tipe orang yang PESIMIS dan TAK berpeng-HARAPAN. Dia TIDAK meyakini suatu SIKAP dan PRINSIP dalam hidup. Jenis orang ini sebenarnya TIDAK MELAKUKAN APA-APA, TIDAK MENGHARAPKAN APA-APA dan TIDAK MENJADI APA-APA demi dirinya sendiri apalagi orang lain.

Orang kedua yang menanam, memanen, merebus dan memakan hasil kebun jagungnya adalah tipe orang yang OPTIMIS dan berpeng-HARAPAN. Dia meyakini SIKAP dan PRINSIP-nya. Jenis orang ini adalah orang yang MELAKUKAN APA-APA, MENGHARAPKAN APA-APA tetapi TIDAK MENJADI APA-APA. Orang ini ber-IMAN sekaligus berpeng-HARAPAN. Dia melakukan sesuatu demi kebaikan dirinya baik di masa kini maupun di masa depan tetapi BUKAN demi orang lain.

Orang ketiga yang menanam, memanen, menyimpan, membagikan kepada orang lain, dan menyisakan sedikit untuk dimakan adalah tipe orang yang OPTIMIS, berpeng-HARAPAN, ber-IMAN, dan memiliki KASIH. Dia meyakini SIKAP dan PRINSIP hidupnya tetapi senantiasa dijiwai oleh KASIH. Sejatinya dia MELAKUKAN APA-APA, MENGHARAPKAN APA-APA dan MENJADI APA-APA (MENJADI SESUATU) yang berguna bagi dirinya sendiri maupun demi kebaikan orang lain.

Apa refleksi kita hari ini?

SIKAP dan PRINSIP hidup yang dijiwai KASIH menjembatani antara IMAN (PERBUATAN kita di saat ini = MENABUR) dan HARAPAN (HASIL PERBUATAN kita di masa depan = MENUAI). Inilah cara kita mengikuti Kristus yang mengajarkan dan menghidupi KASIH.

Maka … jika kita ingin MENUAI belajarlah untuk MENABUR, jika kita ingin MEMANEN belajarlah untuk MENANAM. Jika kita ingin MENERIMA dalam hidup ini, pertama-tama kita harus belajar untuk MEMBERI.

INGAT! IMAN TANPA PERBUATAN adalah MATI, tunjukkanlah iman dari perbuatan-perbuatan kita, kata Rasul Yakobus.

Hukum alam pun mengajarkan:

AWAN HANYA AKAN MENURUNKAN LEBIH BANYAK HUJAN DI TANAH YANG LEBIH BANYAK MENGANDUNG AIR, BEGITU PULA SEBALIKNYA.

Jarang sekali awan menurunkan banyak hujan di padang gurun yang gersang dan kering, sebaliknya tanah yang subur dan memiliki banyak pepohonan, pasti memiliki banyak kandungan air yang akan diserap kembali oleh awan dalam bentuk uap. Awan mengumpulkan butiran-butiran air yang sudah meng-kristal kemudian pada saatnya tiba menurunkannya kembali ke bumi dalam bentuk hujan (maupun salju) yang akan menyuburkan tanah dan tanaman. Itulah alam. Ada hukum timbal balik. Simbiosis mutualisme. Ada yang memberi, ada yang menerima, siapa memberi, dia yang menerima. Kita, manusia, pun memiliki hukum kehidupan:

SEMAKIN BANYAK KITA MEMBERI, SEMAKIN BANYAK KITA MENERIMA.

Tuhan memberkati.

Amlapura, 17 Mei 2020

RP. YONIS TORAS, OCD

(Tulisan ini tidak bermaksud untuk berteologi, meski di-subtitled-kan tiga kebajikan teologis: Iman, Harapan dan Kasih. Lebih daripada itu, saya hanya mengajak pembaca untuk menyikapi hidup secara bijak dan sederhana. Karakterisasi ‘BAPA THEOS’ pun hanya rekayasa saya yang disisipkan untuk mengajak pembaca ber-improvisasi dengan Allah Bapa kita sebagai Sang Bapa Yang Maha Bijaksana, Bapa Yesus dan Bapa semua orang, meski cerita aslinya menggunakan nama tokoh ‘Orang Bijak’.)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.