YOHANES DARI SALIB: MEDITASI DAN KONTEMPLASI

Ketika jiwa melakukan perjalanan melalui malam aktif menjadi malam gelap pasif dan bersatu dengan Tuhan, pola komunikasi dalam doa bergeser dari meditasi ke kontemplasi. Transisi doa ini umumnya dijelaskan dalam ‘The Ascent of Mount Carmel’ ketika jiwa mengalami malam indera yang aktif. Meditasi adalah komunikasi dengan Tuhan melalui gambar, indera, dan penggunaan imajinasi, yang dijelaskan Yohanes sebagai “jalan imajinatif atau meditasi indera” dan “meditasi diskursif” (Kavanaugh & Rodriguez 1979a: 142). Yohanes menulis:

“Meditation is the work of these two faculties, (the imagination and phantasy) since it is a discursive act built upon forms, figures, and images, imagined and fashioned by these senses. For example: the imagining of Christ crucified, or at the column, or in some other scene; or of God seated upon a throne with resplendent majesty; or the imagining and considering of glory as a beautiful light, etc.; or the picturing of any other human or divine object imaginable. The soul will have to empty itself of these images and leave this sense in darkness if it is to reach divine union. For these images just like the corporal objects of the exterior senses, cannot be an adequate, proximate mean to God.” (Kavanaugh & Rodriguez 1979a:137).

Dengan demikian, kriteria untuk maju bersatu dengan Tuhan mencakup keharusan untuk melepaskan praktik meditasi dan beralih ke kontemplasi. Yohanes menjelaskan alasan penyesuaian ini (1979a: 137):

“… because the person has been granted all the spiritual good obtainable through discursive meditation on the things of God and that he (the Christian) has now acquired the substantial and habitual spirit of meditation. It should be known that the purpose of discursive meditation on divine subjects is the acquisition of some knowledge and love of God.”

Persoalan menyangkut praktik meditasi adalah bahwa ketika seseorang menjadi sangat nyaman dengan kemampuan latihan rohani yang dapat diprediksi melalui intelek dan indera, suatu bentuk kemelekatan/keterikatan (‘attachment’) terjadi. Ketika kepuasan/kegembiraan (‘gratification’: ‘the mind’, ‘the taste’, or ‘the appetite’) demi mencapai Tuhan melalui gambar, bentuk, dan penggunaan pencitraan tersendiri, jiwa menemukan sedikit kepuasan (‘satisfaction’: ‘a fulfillment of a need or desire’), atau mungkin menjadi gelisah dan lelah (Kavanaugh & Rodriguez 1979a: 138). Namun, pelepasan ‘keterikatan yang tak terkendali’ dengan doa ini perlu dilakukan. Yohanes menjelaskan (Kavanaugh & Rodriguez 1979a: 623):

“A person should not bear attachment to anything, neither to the practice of meditation, nor to any savor, whether sensory or spiritual, now to any other apprehensions. He should be very free and annihilated regarding all things, because any thought or discursive reflection or satisfaction upon which he may want to lean would impede and disquiet him, and make noise in the profound silence of his senses and his spirit, which he possesses for the sake of this deep and delicate listening. God speaks to the heart in this solitude.”

Lihat Seluruh Text: https://s.docworkspace.com/d/AOIgFyfZq5AKgNPK1qCdFA

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.