AROMA KARMEL: BELAJAR SPIRITUALITAS OCD BERSAMA P.CHRIS,OCD

St. Yohanes dari Salib, sebuah biografi spiritual

Pengantar (# Bagian 1)

Juan de Yepes. Itu nama yang diberikan orang tuanya: Gonzalo de Yepes dan Catalina Alvarez, ketika lahir 1542 di Fontiveros, Avila, Spanyol. Namun, kemudian ia lebih dikenal dengan nama: Fray Juan de la Cruz, dan meninggal tahun 1591, di Ubeda, Jaen, Spanyol. Juan de la Cruz atau dalam bahasa Indonesia: Yohanes dari Salib adalah nama pilihanya. Ia mulai menggunakan nama ini ketika mendirikan Ordo Karmel OCD bersama St. Teresa dari Avila. Biara untuk para biarawan pertama didirikan oleh St. Teresa di Duruelo, 28 November 1568. Dari tempat ini, Fray Juan dan Ordo Karmel Tak Berkasut mulai mengukir kisah tentang bermekarnya cita-cita spiritual dari St. Teresa. Fray Juan de la Cruz tidak saja dikenal sebagai seorang biarawam, Imam, pendiri Ordo Karmel Tak Berkasut (OCD), tapi juga sebagai orang kudus, mistikus, teolog dan sastrawan dengan sederet gelar dan pengakuan Gereja, dunia akademis dan sastra.
Meski demikian, Juan de Yepes, adalah pribadi kontroversial bagi kebanyakan orang. Kotroversi bukan hanya karena dari sikap tegas atas diri dan pilihan hidupnya sendiri, tapi juga atas kedalaman ajaran dan cara mengekspresikan ajarannya itu. Ia disayang tapi juga dibuang; dikagumi, tapi juga disingkirkan, dicari, tapi juga dipenjarakan, dipelajari ajaranya, tapi tak akui orangnya. Ia adalah pribadi yang setia mencari apa yang diminta hatinya. Ia berniat tinggalkan Ordo Karmel, untuk bergabung dengan Kartusian hanya diyakini bahwa disana akan lebih memberikan jalan kepada kekudusan hidup. Ia dianggap pembangkang. Banyak orang marah, terlebih para pembesar Ordo. Tidak itu saja. Ia bahkan ditangkap dan dipenjarakan selama 9 bulan: Desember 1577-Agustus 1578.

Pengantar (# Bagian 2)

Selain dari hidup, muncul kontroversi dari cara dan gaya bahasa untuk mentransmisikan ajaran spiritualnya. Ia adalah satu-satunya teolog dan mistikus yang menulis pengalamanya akan Allah dalam puisi dan prosa. Hal yang membuat para pengambil keputusan tertinggi Gereja harus berpikir lama dan berproses panjang untuk setuju memasukan ajarannya dalam stándar diskursus teologis dan menjadikannya sebagai pujangga dalam Gereja Katolik.
Demikian juga, penggunaan kata-kata yang menggetarkan syaraf ketakutan manusia, seperti: malam, gelap, penyangkalan, ketelanjangan, pemurnian, lepas bebas, pembersihan, kekosongan, ketiaadan, tak ada apa-apanya, dll, sungguh membuat pembaca dan pencintanya ciut dan tidak berani untuk mendalami ajaranya. Oleh karena itu, tidak bisa dipungkiri bahwa membutuhkan waktu yang cukup lama untuk bisa menyakinkan tradisi spiritualitas Gereja Katolik bahwa ajaran St. Yohanes dari Salib ini sungguh aplikatif dalam keseharian hidup manusia.
Situasi yang tidak enak ini bisa dimengerti, karena pengalamannya akan Allah diceritakan dalam puisi dan prosa, roman dan glosa dengan simbol, ungkapan simbolis, metáfora, perbadingan, dll. Dengan gaya dan bahasa sastra seperti ini, membuat orang lain sulit memahami dan menginterpretasi ajaranya. Maka, bisa dimengerti kalau Juan de la Cruz dianggap memiliki dunianya sendiri. Duania jauh berbeda dari manusia biasa lainnya yang penuh dengan lika liku persoalan politik, ekonomi, sosial yang penuh persaingan dan ingat diri. Namun semuanya itu bisa dimentahkan kalau orang sungguh mengenal siapa dia, dan bagaimana hidup dan ajarannya.
Persoalan lain muncul, karena Ia tak pernah menulis sebaris kalimat pun tentang diri dan keluarganya. Biografinya pun ditulis jauh kemudian hari setelah ia wafat. Meski demikian bukan berarti hidupnya tak bisa diselami. Ada dua pendekatan yang dipakai untuk mengenalnya: Pertama pendekatan eksternal, yakni dari data-data historis yang tercatat dalam berbagai dokumen sipil, akademis dan gereja. Kedua adalah pendekatakan internal yakni meneliti apa yang tersurat dan tersirat dalam tulisannya. Pendekatan kedual inilah yang digunakan dalam penelitian dan penulisan buku ini. Namun, bukan berarti data eksternal tidak digunakan sama sekali dalam buku ini. Ia tetap digunakan sebagai pendukung afirmatif dalam menemukan bagaimana perkembangan dirinya.

Pengantar (# Bagian 3)

Pertimbangan mendasar atas pendekatan ini adalah bahwa Allah sangat menghormati evolusi kodrati manusia, sebagai mana benih yang masuk ke tanah, mati, bertumbuh lalu berbuah banyak. Dengan demikian, mendalami dan mengenal hidup orang kudus, mistikus dan penyair ini dari sisi tulisanya sudah bisa sangat membantu kita untuk, tidak saja mengenal secara baik dan benar ajarannya, tapi lebih dari itu, bisa menikmati puisi, prosa dan doktrin spiritual.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.