PANGGILAN RELIGIUS: MENATAP, MENETAP ATAU MERATAP.

CATATAN AWAL

Manusia adalah mahkluk yang memiliki citra ilahi. Citra ilahi itu melekat dalam dirinya sebagai manusia yang memiliki potensi untuk mentransendensikan dirinya kepada Allah. Sebagai ciptaan yang mampu mentransendensikan dirinya kepada Allah, manusia dipanggil untuk tinggal tetap bersama Allah. Manusia tidak hanya menatap Allah melainkan juga menetap bersama Allah.  Sesungguhnya, setiap orang yang dipanggil secara khusus ataupun pada umumnya, memiliki potensi dalam dirinya untuk tinggal tetap bersama Allah. Tulisan saya kali ini akan menguraikan secara khusus dan khas panggilan religius: menatap, menetap atau meratap.

MASALAH KLASIK DAN ANTIK

Dunia saat ini sedang menawarkan produk-produknya yang mempesona dan memukau. Produk-produk tersebut menggugat kenyamanan dan kemapanan setiap orang untuk segera memiliki dan merasakan apa yang ditawarkan. Produk-produk itu antara lain;(materialisme) pendewaan akan materi, pendewaan akan kenikmatan (hedonisme), pendewaan akan dunia dan barang-barang digital (digitalisme), dan masih banyak lagi produk yang ditawarkan oleh dunia saat ini. Produk-produk ini merangsek sampai pada kehidupan religius yang membuat sebagian kaum terpanggil menatap tapi tidak menetap, menetap tapi meratap. Walau demikian, masih ada sebagian besar kaum terpanggil yang menatap tanpa meratap. Memang ada tertulis, “banyak yang dipanggil tapi sedikit yang dipilih” banyak yang menatap tapi sedikit yang menetap, dan banyak yang menetap tapi sedikit yang meratap. Masalah-madalah seperti ini, sudah menjadi masalah klasik dan antik, yang terus ada dan mungkin tetap ada seiring dengan perkembangan dan perubahan zaman. 

Moralitas dan integritas kaum terpanggil diuji, laksana emas diuji di dapur api. Emas hanya bisa dikatakan emas murni jika ia telah melalui dapur api, begitupun dengan kaum terpanggil. Kaum terpanggil sejati adalah kaum terpanggil yang moralitas dan integritasnya telah diuji di pasar dunia tempat penjejalan produk-produk dunia seperti materialisme, hedonisme, liberalisme, dan lain sebagainya. 

Materialisme, hedonisme, liberalisme seolah-olah bertentangan dengan gaya hidup klasik dan antik yang mendewakan kemiskinan, ketaatan,  dan kemurnian. Di zaman kebanyakan orang mendewakan materi, kaum terpanggil malah mengekang diri dan mau bernaung di bawa payung kemiskinan. Dalilnya adalah miskin demi Kerajaan Allah. Di saat zaman mendewakan kenikmatan duniawi, kaum terpanggil mengejar kenikmatan surgawi dan bernaung dibawa kaul kemurnian. Ketika dunia mengkampanyekan kebebasan individu, kaum religius masih mau mengikrarkan kaul ketaatan. Semua mencari klaim kebenarannya sendiri sehingga masih ada yang menatap terus menetap tanpa meratap.

Hal lain lagi adalah penekanan pada individualisme, krisis identitas dan kendurnya semangat. Ketiga hal buruk ini saling menyulut satu sama lain. Kadang-kadang juga budaya media kita dan bahkan beberapa kaum yang berada di dalam lingkaran intelektual menyampaikan skeptisme berkaitan dengan pesan-pesan warta suci yang disampaikan oleh gereja bersamaan dengan sinisme tertentu.

RELIGIUS YANG MENATAP

Kitab Suci menegaskan bahwa, banyak yang dipanggil tapi sedikit yang dipilih. Ayat ini seolah-olah hendak mengafirmasi kaum religius yang menatap. Kaum religius yang menatap artinya religius yang mendengar dan merasakan panggilan Tuhan tapi tidak mau menetap. Sekedar contoh, tahun 2006, angkatan OCD Indonesia ke-17 berjumlah 11 orang. Dalam perjalanan waktu 10 diantaranya setelah menatap lalu menepi untuk selamanya. SESUNGGUHNYA motivasi awal akan menentukan perjalanan selanjutnya. Mirisnya, ada yang setelah mendapat ijazah lalu mencari alasan untuk pergi. Adapula motif lain yaitu ketakutan pada orang tua. Seseorang dipaksa oleh orang tua untuk masuk biara dan terpaksa menjalankan semua rutinitas yang ada di dalam biara. Sukacita seorang yang terpanggil tidak dirasakan. Efeknya rutinitas yang ada di dalam biara dijalani hanya sebagai simulasi dan spekulasi belaka.  Karakter kaum terpanggil seperti di atas pada akhirnya akan menepi untuk selamanya. Delik dan dalil moral maupun spiritual akan dipakai untuk menjustifikasi tindakan yang diambil. Dalilnya, sudah tidak punya panggilan hidup membiara. “Kau datang dan pergi sesuka hatimu” 

Ada gejala lain yang dialami oleh kaum terpanggil, meskipun mereka berdoa tetapi mengidap semacam rendah diri yang membuat mereka menyembunyikan identitas dan keyakinan mereka. Hal ini yang oleh Paus Fransiskus menyebabkan  suatu lingkaran setan. Mereka menjadi tidak bahagia dengan siapa diri mereka dan apa yang mereka lakukan sehingga pada akhirnya melemahkan komitmen panggilan mereka. Sungguh mengagetkan lagi ada beberapa orang yang dengan jelas memiliki keyakinan spiritual dan doktrinal yang solid seringkali jatuh ke dalam gaya hidup yang mengarah pada kelekatan dan kenyamanan finansial atau keinginan untuk berkuasa. Akhir dari semuanya itu, berkembanglah globalisasi ketidakpedulian. 

Ancaman terbesar saat ini adalah manakala seorang religius hidup hariannya kelihatan berlangsung secara normal padahal imannya melemah dan merosot menjadi kepicikan. Jika ini berlangsung lama maka berkembanglah psikologi makam yang perlahan-lahan mengubah menjadi mumi-mumi yang siap dimuseumkan. Apalagi jika diterpa godaan yang terus menerus bisa jatuh pada kemurungan sendu, kekurangan harapan yang pada akhirnya menjadi “ramuan iblis yang paling mahal”.

RELIGIUS YANG MENETAP

Religius yang menetap adalah religius yang memiliki motivasi murni untuk menetap. Mereka tidak hanya menatap tapi menetap tanpa meratap. Karakter fundamental religius yang menetap antara lain; pertama, religius yang mengalami sukacita dalam panggilan hidupnya. Hidup panggilannya tidak seperti orang yang baru saja pulang dari pemakaman tapi selalu menggembirakan dan menghibur. Hal ini tampak dari beberapa sahabat yang merasa enjoy dengan pilihan hidupnya. Ia senantiasa bebas dan bertanggungjawab dengan tugas dan panggilannya. Mereka seperti penabur yang ketika melihat ilalang tumbuh dan menghimpit gandum namun tidak menggerutu atau bereaksi berlebihan. Akan tetapi selalu mempunyai cara untuk memberi kesaksian bahwa hidup seorang religius sungguh-sungguh menampakan sukacita, dan sukacita itu tetap. Kedua, mengatakan tidak kepada berhala baru. Seorang religius yang terpanggil untuk menempuh hidup khusus mestinya berani untuk mengatakan “tidak kepada berhala baru” antara lain; uang, kuasa dan kenikmatan, selain beberapa persoalan antik dan klasik yang sudah saya kemukakan di bagian awal. Ia tidak mudah terprovokasi oleh berhala-berhala baru namun tetap menatap Kristus yang memanggilnya. Ketiga, berani mengatakan tidak kepada keegoisan dan kemalasan rohani. Keegoisan dan kemalasan rohani selalu akan menuntun seseorang menuju kemalangan. Seorang religius yang dihinggapi oleh keegoisan dan kemalasan rohani akan mengalami kelumpuhan rohani. Jika seorang religius mengalami kelumpuhan rohani maka pada akhirnya akan mengalami kelumpuhan total. 

RELIGIUS YANG MERATAP

Religius yang meratap adalah kombinasi dari bentuk panggilan religius yang menatap dan religius yang menetap. Sekalipun setelah menatap dan menetap, ia tidak mengalami sukacita atas panggilannya. Tinggal di dalam komunitas biara tapi mengembangkan psikologi makam tempat mumi-mumi disimpan. Yang dirasakan adalah kemurungan sendu karena setiap hari ia selalu meratap. Ini yang berbahaya karena seorang yang terpanggil tidak akan mengalami sukacita dalam panggilan hidupnya. Dampak terburuk adalah tidak terlalu sibuk dengan urusan komunitas. Hidup di dalam komunitas tapi tidak merasa memiliki komunitas. Memiliki jadwal pribadi dengan mengabaikan jadwal komunitas. Bekerja seolah-olah memuliakan Tuhan tapi mengabaikan aspek rohani. Dari pagi sampai sore bekerja, dan saat kembali ke komunitas mengeluh lelah karena bekerja seharian suntuk lalu mengabaikan aspek rohani; mulai tidak berdoa, rekreasi, makan bersama. 

SPIRITUALITAS KEMBALI KE GALILEA

Spiritualitas kembali ke Galilea adalah spiritualitas yang ditawarkan oleh Yesus kepada para muridNya pasca kebangkitan. Para murid yang merasa kecewa, merasa putus asa, berada dalam kekalutan dan kehilangan harapan itu diminta oleh Tuhan untuk kembali ke Galilea. Spiritualitas kembali ke Galilea ini mengandung pesan bagi kaum terpanggil untuk kembali ke semangat awal ketika dipanggil. Cobalah kita berimajinasi tentang panggilan awal kita masing-masing. Semangat yang luar biasa, disiplin yang tinggi,  hidup teratur, pokoknya dijalankan dengan penuh antusiasme seperti murid yang baru terpanggil. Sungguh mengagetkan ketika spirit awal ini mulai kendur dan hilang. 

Berhadapan dengan kendurnya semangat, pupusnya harapan, seorang yang terpanggil dianjurkan untuk kembali ke Galilea. Kembali ke Galilea dalam arti menatap kembali spiritualitas awal panggilan dan bukan meratapi panggilannya.

CATATAN AKHIR

Akhirnya, panggilan apapun apabila dijalankan dengan sungguh-sungguh tentu akan membawa sukacita dalam hidup panggilannya.  Tuhan memanggil setiap orang melalui caraNya yang khas dan khusus, melampaui apa yang dipikirkan oleh manusia. Kaum terpanggil harus bekerja sama dengan Rahmat Allah yang memanggilnya untuk setia. Memang kesetiaan dituntut oleh Allah dalam mengikutinya. Jika kesetiaan yang dituntut maka pengorbanan dan pelepasan dibutuhkan dari kaum terpanggil. Bagi yang dipanggil untuk menghidupi panggilan khusus ini, diharapkan untuk menetap dan bukan menetap sambil meratap. Paus Fransiskus mengingatkan kaum religius untuk senantiasa menampakan sukacita dalam panggilannya. Sukacita mesti menjadi ciri khas dari setiap orang yang dipanggil secara khusus bukannya kemurungan sendu yang tanpa akhir. Religius yang menetap adalah religius yang menampilkan sukacita dalam panggilannya. Kegagalan seorang religius dalam hidupnya manakala ia tidak menampakan sukacita dalam hidupnya.

P. Bertolomeus Bolong, OCD JR

2 thoughts on “PANGGILAN RELIGIUS: MENATAP, MENETAP ATAU MERATAP.

  • Oktober 10, 2019 pada 11:25 pm
    Permalink

    Terima kasih Pater renungannya yang bagus. Semoga menjadi berkat bagi semua.

    Balas
    • Oktober 11, 2019 pada 12:37 am
      Permalink

      Tks Bro, semoga kita yang terpanggil; menatap, menetap dan mengalami sukacita dalam panggilan….

      Balas

Tinggalkan Balasan ke adminocd Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.